3 Cara Penanganan Bila Digigit Anjing Rabies

      Comments Off on 3 Cara Penanganan Bila Digigit Anjing Rabies

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melakukan sosialisasi pemasangan mikrocip pada anjing. Sosialisasi pemasangan mikrocip telah serentak dilakukan mulai 1-5 Oktober di seluruh wilayah Jakarta dan pada 6 Oktober bersama Jakarta Animal Aid Network (JAAN) memberikan sosialisasi serta ruang diskusi untuk pemilik hewan anjing mengenai pentingnya memasang mikrocip.

Mengutip Antara, pemasangan mikrocip itu bertujuan untuk mendata dan menghitung populasi anjing di Jakarta serta mempertahankan Jakarta sebagai kawasan bebas Rabies.

Penyebaran rabies melalui anjing menjadi salah satu perhatian Pemprov DKI Jakarta. Sebab, sebanyak 80 persen kasus rabies yang terjadi di Jakarta disebabkan oleh gigitan anjing.

Secara global, sebanyak 98 persen penyakit rabies yang diderita manusia, disebabkan oleh gigitan anjing yang di tubuhnya mengandung virus yang bisa menyebabkan infeksi akut pada susunan saraf pusat tersebut. Sisanya, disebabkan oleh kera dan kucing.

Rabies adalah penyakit infeksi tingkat akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Virus ini bersifat zoonotik atau dapat menular melalui gigitan hewan ke manusia.

Virus ini dapat menyerang semua jenis hewan berdarah panas seperti anjing, kucing, kera, rakun, kelelawar dan juga manusia. Infeksi juga dapat terjadi melalui jilatan hewan perantara pada kulit yang terluka.

Lalu bagaimana cara penanganan rabies terutama melalui gigitan anjing?

Susilawathi dan Sudewi dalam tulisanya berjudul Profilaksis Rabies mengatakan, bila penyakit ini telah menunjukkan gejala klinis pada hewan atau manusia, selalu diakhiri dengan kematian.

Menurut Susilawathi dan Sudewi, penting mengoptimalkan pencegahan dan pemberantasan dengan memberikan Vaksin anti rabies.

Terdapat tiga cara penanganan bila digigit anjing rabies yaitu: Penanganan gigitan, pemberian Serum Anti Rabies (SAR), dan Pre Exposure Vaccination vaksin (VAR).

Dalam penanganan gigitan anjing rabies, diperlukan tindakan cepat yakni segera mencuci luka gigitan dengan air mengalir dan sabun atau detergent selama 10-15 menit kemudian diberikan antiseptik.

Masih dalam tulisan Susilawathi dan Sudewi, pemberian SAR juga perlu dilakukan. Hal ini merupakan imunisasi pasif yang bertujuan untuk segera memberikan neutralizing antibodies sebelum sistem imun penderita siap untuk menghasilkan antibodi sendiri yang terjadi 7-14 hari setelah diberikan VAR.

Sedangkan SAR hanya diberikan sekali pada awal vaksinasi, jika SAR tidak diberikan pada awal vaksinasi masih dapat diberikan sampai hari ke-7 sejak vaksinasi awal. Setelah hari ke-7 merupakan kontraindikasi SAR karena telah terjadi respon imun aktif terhadap VAR. Suntikan SAR sangat diperlukan apabila luka gigitan yang terpaksa dijahit.

Dalam proses penangan, misalnya untuk luka resiko rendah yang tidak berbahaya seperti jilatan pada kulit, luka, garukan atau lecet (erosi, ekskoriasi), luka kecil di sekitar tangan, badan dan kaki, cukup diberikan VAR.

Badan PBB yang bergerak di bidang kesehatan WHO merekomendasikan agar VAR diberikan sebanyak tiga kali dengan dosis yang penuh pada hari ke-0, ke-7 dan ke-21 atau ke- 28. Pemberian VAR bisa dilakukan secara intramuskular di daerah deltoid pada orang dewasa dan anterolateral paha pada anak-anak.

Di Indonesia, pedoman pemberian VAR yakni sebanyak dua kali vaksinasi dasar pada hari ke-0 dan ke-28, kemudian VAR ulangan 1 tahun setelah pemberian pertama dan ulangan selanjutnya tiap 3 tahun.

Pemberian suntik vaksin rabies VAR juga dapat diberikan diawal sebelum digigit. Vaksin ini dianjurkan kepada mereka yang mempunyai resiko besar untuk mendapat infeksi, antara lain: dokter hewan, teknisi yang bekerja pada hewan, karyawan laboratorium yang bekerja dengan virus rabies, karyawan rumah potong hewan, petugas kesehatan yang menangani kasus luka rabies, dan petugas peternakan yang menangani hewan penularan rabies.

Di Indonesia, jenis vaksin yang tersedia adalah PVRV dengan distribusi luas,4-6. Selain pencegahan gejala pada manusia, vaksinasi rabies terhadap hewan peliharaan seperti anjing juga merupakan salah satu cara pencegahan yang harus diperhatikan.