No Comments on

1 September 2016 jadi hari yang bersejarah bagi miliarder Elon Musk. Roket SpaceX garapannya menjalani serangkaian tes di landasan pacu Cape Canaveral. Jika sukses, roket Falcon 9 itu akan meluncur ke luar angkasa di akhir pekan.

Semuanya berjalan normal. Hingga pada pukul 9.07 pagi, hal mengejutkan terjadi. Roket yang berisi 75 ribu galon oksigen tersebut meledak di tempat, menyisakan kepulan asap hitam yang membumbung ke langit. Tak lagi berdiri tegak, Falcon 9 kini berubah wujud menjadi puing-puing yang berjatuhan di sekelilingnya.

Getaran ledakan bahkan bisa dirasakan hingga 30 mil jauhnya. Bukan hanya Elon Musk yang terpukul, pendiri Facebook Mark Zuckerberg juga menyayangkan kejadian ini. Bagaimana tidak, satelit komunikasi miliknya senilai US$ 200 juta ada di sana.

Ini merupakan ledakan dramatis kedua yang dialami perusahaan antariksa SpaceX. Sebelumnya, sebuah roket juga meledak pada Januari 2016 setelah hampir sukses mendarat di bumi.

Meski banyak tantangan, niat miliarder dunia untuk berinvestasi di bidang eksplorasi ruang angkasa nampaknya tak pernah surut.

Laporan terbaru yang dirilis oleh Bloomberg Technology mengungkap, sebanyak 16 miliarder dunia memilih menginvestasikan uangnya di bidang eksplorasi luar angkasa.

Sebagian besar dari mereka adalah yang mampu mendulang kekayaan dari industri teknologi. Jika digabungkan, keenam belas miliarder ini memiliki harta mencapai US$ 513 miliar.

Lalu apa yang membuat para miliarder ini sangat berambisi menanam uangnya di bidang antariksa?

Melansir theguardian.com, Kamis (24/8/2017), Ashlee Vance, seorang jurnalis teknologi menuturkan ambisi para miliarder disebabkan berbagai macam hal. Mulai dari ambisi bisnis, perhatian yang besar terhadap orang lain hingga ego mereka sendiri.

“Para miliarder dengan harta berlimpah tersebut merupakan seorang kutu buku. Sebagian besar dari mereka tumbuh besar membaca buku fiksi dan bermimpi pergi ke luar angkasa. Sekarang mereka punya banyak uang dan ingin mewujudkan hal itu jadi nyata,” tutur Vance.

Selain ambisi yang besar, kebanyakan miliarder ini juga punya sifat altruisme. Sifat ini berarti mereka memiliki perhatian yang besar terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri.

Direktur Eksekutif Space Frontier Foundation Hannah Kerner mengatakan, sifat altruisme membuat miliarder ingin bisa menjadi sosok yang merubah dunia. Mereka juga ingin bisa memberi dampak lebih besar ke masyarakat.

“Ketika seseorang punya sifat altruistik, mereka merasa penting. Mereka ingin bisa dilihat sebagai seseorang yang memberi perubahan dan memberi pengaruh di dunia,” ungkapnya.

Hal ini selaras dengan laporan Bloomberg. Selama satu dekade terakhir jumlah startup yang memfokuskan diri di luar angkasa juga tumbuh dengan cepat. Misalnya saja Musk’s Space Exploration Technologies yang didirikan oleh Elon Musk pada 2009.

Laporan dari perkumpulan investor luar angkasa Space Angels mengatakan, ada lebih dari 225 perusahaan antariksa yang telah mendapat suntikan dana. Di tahun 2016, total nilai investasi di bidang ini mencapai US$ 3,1 miliar. Angka ini naik pesat dibanding tahun 2011 yang hanya sebesar US$ 409 juta.

Meski demikian, konsultan keuangan Euroconsult Maxime Puteaux mengatakan bahwa sebagian perusahaan tersebut akan bangkrut. Resiko besar juga harus mampu dihadapai oleh investor yang rela berinvestasi di bidang ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *