Abdullah Abdullah: RI Punya Posisi Baik jadi Pendamai Afghanistan dengan Taliban

Lima bulan usai Bogor menjadi tuan rumah bagi konferensi ulama dan cendekiawan dari Afghanistan-Pakistan-Indonesia yang membahas tentang perdamaian serta stabilitas di Afghanistan, salah satu pemimpin Afghanistan meminta agar RI menindaklanjuti hasil pertemuan tersebut.

Permintaan itu disampaikan oleh Pemimpin Eksekutif Afghanistan, Abdullah Abdullah, usai dirinya melakukan kunjungan kehormatan ke Jakarta pada 4 Oktober 2018.

Abdullah bertemu dan membahas hubungan bilateral dengan Presiden RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pertemuan itu pun berlangsung hampir lima bulan usai konferensi ulama trilateral Afghanistan-Pakistan-Indonesia di Bogor pada 11 Mei 2018.

Mengomentari hasil pertemuannya dengan para pemimpin Indonesia, Abdullah menggarisbawahi peran Tanah Air dalam mengupayakan perdamaian di Afghanistan –negara yang tengah berkonflik dengan kelompok Taliban dan beberapa organisasi teroris selama dekade terakhir.

Indonesia telah lama membantu untuk mempromosikan perdamaian di Afghanistan … dan negara Anda berada di posisi yang baik untuk mengupayakan hal tersebut,” kata Abdullah dalam wawancara khusus Jumat 5 Oktober 2018.

“Indonesia juga punya reputasi dan kredibilitas yang baik di Afghanistan, yang dibangun lewat sejarah hubungan yang baik pula antara kedua bangsa.”

“Peran Indonesia terhadap Afghanistan juga berbeda dengan apa yang dilakukan oleh negara Barat. Karena, Indonesia lebih mementingkan perdamaian dan stabilitas di Afghanistan, kawasan dan global,” tambahnya.

Pria yang menduduki jabatan sepantar perdana menteri itu juga mengatakan bahwa pemimpin kedua negara telah meningkatkan kapasitas hubungan Indonesia-Afghanistan lewat sejumlah kunjungan tingkat tinggi. Seperti misalnya, lawatan Presiden Ashraf Ghani ke Jakarta pada 2017, lawatan Presiden Jokowi ke Kabul pada 2018, kunjungan Wapres JK ke Kabul pada tahun yang sama, serta, lawatan menteri masing-masing negara.

Di mata Abdullah, rangkaian pertemuan yang terlaksana selama dua tahun terakhir itu, meningkatkan posisi Indonesia sebagai pihak yang patut diperhitungkan pada upaya perdamaian Afghanistan dengan Taliban di dalam negeri. Termasuk, perdamaian Afghanistan dengan negara tetangga, yakni Pakistan.

Salah satu bukti adalah terselenggaranya konferensi ulama trilateral Afghanistan-Pakistan-Indonesia di Bogor pada 11 Mei 2018.

Awalnya, konferensi itu digagas oleh Presiden Jokowi kala melakukan kunjungan kenegaraan dan bertemu dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani di Kabul pada Januari 2018. Kemudian, Wakil Presiden JK menindaklanjuti gagasan tersebut saat mengunjungi Afghanistan pada Februari 2018 untuk menghadiri Kabul Peace Process yang diinisiasi oleh Presiden Ghani.

Pakistan, yang kerap dituduh komunitas internasional sebagai sekutu Taliban, turut menyambut dan mendukung inisiatif Indonesia menggelar konferensi trilateral tersebut.

Abdullah pun, mengapresiasinya. Ia mengatakan bahwa gagasan tersebut merupakan “kontribusi yang baik bagi perdamaian di Afghanistan.” Namun baginya, tak cukup sampai di situ.

Abdullah: Perlu Ada Tindak Lanjut dari Indonesia

Konferensi ulama trilateral Afghanistan-Pakistan-Indonesia di Bogor pada 11 Mei 2018 memang melahirkan sebuah deklarasi bernama Bogor Ulema Declaration for Peace, yang secara garis besar menyepakati untuk mempromosikan perdamaian, stabilitas, dan persatuan, menyerukan penghentian kekerasan, ekstremisme, dan terorisme, serta menyegerakan rekonsiliasi antara semua pihak yang terlibat dalam konflik menahun di Afghanistan.

Tapi, deklarasi yang bersifat tak mengikat itu pun seolah gamang, dengan masing-masing negara tampaknya belum mengutarakan kembali kelanjutan dari Bogor Ulema Declaration for Peace. Padahal, pada sesi penutupan konferensi, Wapres JK mengatakan, “Teknisnya nanti akan dibicarakan.”

Sementara itu, Taliban terus melancarkan militansinya di Afghanistan. Terbaru, kelompok itu dikabarkan melakukan bentrokan bersenjata dengan aparat keamanan Afghanistan di Provinsi Wardak, Afghanistan Tengah, pada Minggu 7 Oktober 2018. Sedikitnya 10 polisi Afghanistan tewas dalam kisruh tersebut.

Taliban juga dikabarkan terus melakukan serangan sporadis lain di propinsi penting secara strategis, seperti, Wardak dan Ghazni di dekatnya, itu menunjukkan kekuatan Taliban, menggarisbawahi betapa masih rawan keamanan di Afghanistan dua pekan sebelum Pemilu Parlemen 2018, serta lima bulan jelang Pilpres Afghanistan April 2019.

Oleh karenanya, Abdullah mengatakan, “Perlu ada sebuah tindak lanjut dari Indonesia terhadap pertemuan trilateral yang dilaksanakan beberapa waktu lalu.”

“Saya menyampaikan kepada pemimpin Indonesia agar agar ada kelompok kerja kecil yang bisa membahas kelanjutan itu. Dan kita bisa saling berkontak dengan ulama di Indonesia-Pakistan-Afghanistan.”

“Atau juga, kita bisa melakukan pertemuan trilateral edisi kedua. Kita perlu melakukannya pada waktu yang tepat bagi ketiga negara. Tapi sebelum mencapai ke sana, kita perlu terus berkontak agar pertemuan itu bisa terlaksana,” kata pemimpin eksekutif Afghanistan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *