Bareskrim Tembak Mati 47 Tersangka Narkoba Sepanjang 2018

      Comments Off on Bareskrim Tembak Mati 47 Tersangka Narkoba Sepanjang 2018

Dewaporkas – Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri tak mau tawar menawar terhadap kejahatan narkotika. Puluhan ribu tersangka berhasil ditangkap untuk menekan angka kejahatan di bidang narkoba, 47 di antaranya terpaksa ditembak mati di sepanjang 2018.

Dewaporkas – Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Daniyanto mengatakan, pelaku terpaksa ditembak mati karena berusaha melawan dan dinilai dapat membahayakan petugas dan masyarakat. Dari total tersebut, tujuh orang di antaranya merupakan warga negara asing (WNA).

Dewaporkas – Jumlah tersangka (yang ditembak mati) 47 orang, terdiri dari tersangka WNI sebanyak 40 orang dan tersangka WNA sebanyak tujuh orang terdiri dari enam orang WN Malaysia dan satu orang WN Nepal,” ujar Eko dalam keterangan tertulis, Jakarta, Sabtu (30/12/2018).

Sementara total tersangka kasus narkoba yang ditangkap sepanjang 2018 sebanyak 25.444 orang. Dari jumlah tersebut, 1.162 tersangka berperan sebagai bandar, 3.989 sebagai kurir, 12.789 sebagai pengedar, 7.493 sebagai penyalahguna, dan 11 orang sebagai produsen.

–Vonis Mati–

Dewaporkas – Selanjutnya, jumlah tersangka berdasarkan vonis sepanjang tahun 2018 yaitu, vonis mati sebanyak 7 orang, seumur hidup 10 orang, hukuman 15-20 tahun penjara sebanyak 95 orang, dan hukuman penjara 10-15 tahun sebanyak 2.106 orang.

“Hukuman 6-9 tahun penjara sebanyak 2.325 orang, kurang dari lima tahun sebanyak 9.880 orang, diversi tiga orang dan rehabilitasi sebanyak 13 orang,” ucap Eko membeberkan.

–Kampanye Antinarkoba, 4 Pelari dari GWK Bali Tiba di GBK Jakarta–

Dewaporkas – Empat pelari yang mengkampanyekan antinarkoba untuk generasi muda Indonesia berhasil tiba di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. Mereka berlari dari Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali sejak 1 Desember 2018.

Dewaporkas – para pelari atas nama Gatot Sudariyono (57), Adlan Djohan (57), Cokro Sumarno (47), dan Suparmin (37) tiba di GBK sekitar pukul 06.50 WIB. Mereka memulai start pagi di Jakarta dari Gedung Badan Narkotika Nasional (BNN) Cawang sekitar pukul 05.00 WIB.

Di gerbang 10 GBK Senayan, Kepala BNN Komjen Heru Winarko menyambut keempatnya yang juga didampingi para pelari lainnya.

“Jadi tujuan kita adalah kami memberdayakan komunitas-komunitas di sini, ada komunitas runner oleh Pak Nanan menemui kami, ada rekan-rekan beliau untuk melakukan lari dari Bali ke Jakarta itu untuk bagaimana bisa menyampaikan (antinarkoba),” tutur Heru di GBK Senayan, Jakarta.

Dewaporkas – Keempat pelari itu, lanjut Heru, singgah di setiap daerah yang dilintasi sambil melakukan sosialisasi dan kampanye antinarkoba. Khususnya di daerah pedesaan yang mungkin tidak banyak tersentuh informasi tentang bahaya narkotika.

“Itu misi yang kita harapkan dan Alhamdulillah misi akan tercapai dan ditandai dengan mereka ada di sini dengan kondisi yang tetap prima. Mereka sudah di atas 50 tapi masih punya semangat. Ini menunjukkan bahwa generasi muda tetap bangkit,” jelas Heru.

Tempuh 1.500 Kilometer

Dewaporkas – Salah seorang pelari, Gatot Sudariyono mengatakan, BNN menjadi lembaga yang sangat berani mengambil risiko dengan mempercayakan kampanye antinarkoba lewat aksi lari para pria paruh baya.

“Banyak orang melakukan penggalangan dana tapi mungkin kita perlu mencoba berlari untuk kampanye. Lembaga yang yang bersedia dan cukup gila dan cukup yakin dengan kemampuan kami adalah BNN. Dan BNN bersedia untuk mendukung kami, belakangan Kemensos juga bersedia. Jadi kami membawa 2 lembaga besar yaitu BNN dan Kemensos untuk kampanye antinarkoba,” beber Gatot.

Keempat pelari itu menempuh jarak lari sekitar 1.500 kilometer lebih. Mereka berlari selama 30 hari dari Bali ke Jakarta dengan melewati sejumlah medan berat.

“Ada beberapa medan yang mungkin teman-teman juga akan gentar sendiri, ada yang namanya Baluran, itu hutan jati di Jawa Timur. Ada juga Sarangan, itu tanjakan yang luar biasa tingginya. Terus ada yang namanya Alas Roban, lalu yang terakhir tanjakan Puncak pas,” ujar dia.

Gatot mengaku memang pehobi olahraga lari. Menurutnya, hobi berlari adalah berkah. Untuk itu, bentuk rasa syukur bagi mereka yang masih bisa berlari salah satunya adalah untuk kegiatan sosial.

“Jauhi narkoba, hidup sehat berprestasi, jaga temen-temennya dari narkoba, jaga saudara-saudaranya dari narkoba, jaga temen sekolahnya dari narkoba, maka kita bersama-sama bisa selamat menatap mata depan,” Gatot menandaskan.