Mitos pesugihan di balik kasus pencurian tali pocong

BERITA PERISTIWA – Pembongkaran makam dan pencurian tali pocong kembali terjadi. Kali ini di kompleks TPU Mbeji, Jalan Landak Mertasinga, Kecamatan Cilacap Utara, Cilacap. Jenazah bayi yang dimakamkan 40 hari lalu dibongkar orang tak dikenal. Kasus ini diduga berkaitan dengan ilmu hitam.

Kapolsek Cilacap Utara AKP Made Arthana mengatakan, makam yang dibongkar merupakan makam bayi perempuan. Bayi tersebut putri dari pasangan Tasiwan dan Karsiyah. Meninggal dunia saat di lakukan persalinan di salah satu rumah bersalin di Cilacap 40 hari yang lalu.

Petugas Polsek Cilacap utara dan Inafis Sat Reskrim Polres Cilacap dengan dibantu warga membongkar makan tersebut. Setelah dilakukan pembongkaran dan dilakukan pengecekan yang disaksikan oleh keluarga bahwa mayat bayi dalam keadaan utuh.

“Hanya sebagian kain kafan saja yang hilang,” kata Made, Jumat (12/1).

Setelah dilakukan pemeriksaan, mayat bayi tersebut kembali di makamkan di lokasi semula.

Yuk Gabung ke Kartu66 Agen Poker Online Terpercaya Di Indonesia. Rasakan Kartu Cantik Nya Dan Nikmati Layanan Customer Service Kami 24 Jam Nonstop Untuk Info Lebih Lanjut Silahkan Hubungi CS Kami Melalui Live Chat Link Kami
Link : promosiweb.net | hokiceme.com

Tasiwan pertama kali mendapatkan kabar makam putrinya dibongkar dari Sudiyah (61). Kaget bukan kepalang, dia tergopoh-gopoh menuju TPU Mbeji yang berjarak 300 meter dari kediamannya.

Saat sampai di lokasi, makam putrinya sudah dalam keadaan tumpukan tanah acak-acakan.

Tasiwan bercerita, putrinya meninggal satu jam usai persalinan sebab keracunan air ketuban. Pada Jumat (12/1), tepat 40 hari kepergian putri ketiganya itu.

“Kemungkinan pembongkaran makam itu pukul 02.00 atau 03.00 dini hari, pertama kali diketahui warga pukul 04.30 WIB,” kata Tasiwan saat ditemui di kediamannya, Jumat (12/1).

Dari informasi warga, ia mendengar sejak Selasa (9/1) dan Rabu (10/1) kemarin, ada orang tak dikenal yang kerap mendatangi makam putrinya. Orang itu datang tiap sore menjelang magrib. Seringkali, orang tersebut berdiri dengan jarak 5 meter dari makam.

“Masyarakat sini enggak tahu siapa. Sebelumnya ya enggak ada yang curiga,” ujarnya.

Tasiwan menduga pembongkaran makam putrinya praktik ilmu hitam. Ia kerap mendengar, pembongkaran makam bayi dan pengambilan potongan kain kafan atau tali pocong untuk syarat pesugihan, kekebalan atau kesaktian-kesaktian tertentu.

“Di makam putri saya itu, tali pocongnya hilang. Juga kain kafannya diambil sedikit. Dugaan saya untuk ilmu hitam, tapi saya inikan orang awam. Hanya menduga saja,” katanya.

Sudiyah, saksi yang pertama kali mengetahui pembongkaran makam bayi, menceritakan saat itu tengah jalan-jalan bersama cucunya pukul 5.30 pagi. Ia kaget melihat keadaan makam acak-acakan. Seingatnya, saat itu tumpukan tanah dan potongan-potongan bambu tercecer di antara makam, juga ada jejak-jejak kaki.

Menurutnya, sangat mungkin memang pembongkaran makam bayi ini terkait praktik ilmu hitam berdasarkan cerita dari mulut ke mulut. Tapi di perkampungan mereka, baru kali ini terjadi peristiwa bikin geger soal pembongkaran makam.

“Saya kaget saja. Kalau kejadian semacam ini ya baru saat ini,” katanya.

Sebelumnya kasus serupa juga terjadi di TPU Ciputat, Tangerang Selatan. Makam Muhammad Suhendra bin Solahi alias Hendra Capung dibongkar oleh MI (34), yang tak lain adalah teman Hendra.

Motif MI nekat membongkar makam pendiri perguruan silat tersebut sebagai syarat ritual pesugihan. Dia ingin angkutan umumnya ramai penumpang.

Pelaku selama ini bekerja sebagai sopir tembak angkutan kota D10 Ciputat-Pondok Aren. Penghasilannya Rp 30 ribu sampai Rp 60 ribu per hari. Selain untuk membuat ramai angkutan kota yang dia bawa, MI mengaku perbuatan itu dilakukan setelah terdesak keperluan untuk kelulusan sekolah sang adik.

“Dia ini nekat mencuri karena ingin tarikan angkotnya ramai, karena selama ini selalu sepi,” kata Kapolres Tangerang Selatan AKBP Fadli Widiyanto di kantornya, Senin (8/1).

MI lantas memutar otak agar setorannya masuk. Ide mencuri tali pocong pun muncul. Ide itu didapatnya saat berbincang dengan penumpang angkutan kota dibawanya.

“Ngobrol-ngobrol sama penumpang, katanya nyimpen tali pocong kalau mau ramai,” ucap MI.

Tak lama berselang Hendra wafat. Pembongkaran makam dilakukan pelaku malam harinya selama 3,5 jam memakai skop dan kayu. Karena sudah hampir pagi, MI tak sempat mengurung kembali makam Hendra yang dia bongkar menggunakan kayu.

Pelaku mengaku membongkar dan mencuri tali pocong seorang diri. Namun yang terjadi setelahnya, angkotnya tak kunjung ramai, tali pocong itu pun dibuang pelaku ke kali.

“Setelah curi tali pocong bukanya ramai angkotnya justru malah sepi. Dia kesal, akhirnya tali pocong itu dia buang. Barang bukti ini masih kami cari,” kata Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan AKP Alexander di Mapolres Tangsel, Senin (8/1). [

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *