Pertanda Alam yang Terabaikan Sebelum Letusan Kawah Sileri Dieng

      Comments Off on Pertanda Alam yang Terabaikan Sebelum Letusan Kawah Sileri Dieng

Masyarakat di dataran tinggi Dieng, sebagaimana warga yang hidup di daerah berisiko tinggi, tentu memiliki pengetahuan yang diajarkan secara turun-temurun dan menjadi kearifan lokal. Dieng, yang merupakan kaldera raksasa kuno, tentu mengajarkan betapa pertanda alam adalah mitigasi bencana terbaik.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, Arif Rachman, berharap peristiwa meletusnya Kawah Sileri, Minggu, 2 Juli 2017, bisa memicu pengaktifan kembali kearifan lokal Dieng.

Berdasarkan informasi yang diperolehnya, masyarakat setempat telah merasakan tanda-tanda alam bahwa akan terjadi aktivitas vulkanik yang membahayakan sebelum letusan di Kawah Sileri terjadi.

“Masyarakat setempat bisa merasakan,” kata Arief kepada Liputan6.com, Senin malam, 3 Juli 2017.

Menurut dia, pemahaman terhadap tanda-tanda alam itu adalah bagian dari kearifan lokal yang diajarkan tetua kepada keturunannya. Ilmu itu disampaikan turun-temurun selama ratusan tahun yang didasarkan pengalaman praktis masyarakat, baik sebagai komunitas sosial maupun komunitas ekonomi.

“Masyarakat bermukim di daerah yang dikelilingi oleh kawah aktif, baik yang memiliki riwayat membahayakan maupun tidak. Secara naluriah dan berdasarkan pengalaman, masyarakat tidak mau bermukim di daerah yang terlalu dekat dengan kawah aktif,” ujarnya.

Permukiman yang cenderung menjauh dari kawah itu, jelas Arif, merupakan bentuk kearifan lokal yang mendasarkan pada peristiwa-peristiwa masa silam. Dia mencontohkan, kawasan permukiman terdekat dari Kawah Sileri adalah Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, yang berjarak sekitar 2 kilometer dari kawah.

“Jarak yang cukup aman untuk permukiman,” kata dia.

Di masa lalu, Kawah Sileri memiliki riwayat erupsi eksplosif yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa akibat material vulkanik yang dimuntahkan, berupa lahar panas dan bebatuan seberat 1,5 kilogram.

Erupsi pada 1944 itu terjadi menyebabkan 177 warga Desa Jawera tewas. Lantas, mereka pun berpindah tempat ke kawasan yang kini disebut sebagai Desa Kepakisan, yang berjarak cukup aman.

Dari Jangkrik hingga Anjing

Tanda bahaya dari alam ketika aktivitas vulkanik meningkat lainnya, menurut Arif juga sudah diajarkan oleh tetua masyarakat Dieng. Antara lain, mengamati aktivitas hewan yang cenderung tak wajar.

Di kawasan gunung berapi, pertanda alam itu berwujud banyak hewan yang turun gunung. Sementara, di sekitar kawah, hewan menjauhi area kawah.

Burung yang biasa berkicau tiba-tiba terdiam. Begitu pula dengan hewan-hewan lain, seperti jangkrik atau belalang. Sebaliknya, hewan yang lainnya yang tidak biasa bersuara jadi ramai, misalnya anjing menggonggong terus-menerus.

“Menurut ajaran tetua masyarakat yang berada di daerah gunung berapi aktif, kebiasaan hewan-hewan menyimpang. Burung berkicau tiba-tiba diam. Kemudian, anjing juga akan menggonggong terus menerus,” tuturnya.

Pertanda lainnya, menurut Arif, suhu di sekitar kawah akan cenderung meningkat (hangat/panas). Padahal, rata-rata suhu di Kawasan Tinggi Dieng yang berketinggian sekira 2000 mdpl cenderung dingin.

Suhu rata-rata adalah 7-12 derajat Celsius pada malam dan 18 derajat Celsius pada siang hari. Bahkan, pada puncak kemarau sekitar Agustus, suhu Dieng bisa mencapai titik beku 0 derajat Celsius, di mana salah satu tandanya adalah munculnya “bun upas” atau embun es yang mematikan tanaman kentang.

Secara visual, masyarakat setempat juga sudah belajar bahwa kawah yang mengalami peningkatan aktivitas vulkanik bergerak lebih cepat. Sementara, suhu kawah akan meningkat.

“Itu adalah pertanda yang harus menjadi pegangan masyarakat karena kearifan lokal itu bisa menjadi mitigasi bencana yang efektif,” ujar Arif.

Kearifan lokal tersebut, menurut Pengamat Pos Pengamatan Vulkanologi Gunung Api Dieng, Aziz Yulianto, selanjutnya dikonfirmasi melalui pengetahuan ilmiah. Beberapa hal yang diukur adalah kadar konsentrasi gas, suhu permukaan kawah, dan aktivitas kegempaan.

“Pengamatan vulkanologi dengan memasang alat untuk mengukur suhu permukaan kawah, konsentrasi gas dan kegempaan,” kata Aziz.

Pemantauan dengan peralatan canggih ini, menurut Aziz, akan menghasilkan rekomendasi yang harus menjadi acuan mitigasi bencana. Begitu Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi menyatakan bahwa kawasan itu berbahaya, maka harus diikuti oleh masyarakat.

“Instansi terkait juga harus saling mendukung untuk mengantisipasi korban jiwa dan kerugian lebih besar bila terjadi bencana,” ujarnya.