Sekolah di Australia kerahkan polisi buat cegah siswa membolos

      Comments Off on Sekolah di Australia kerahkan polisi buat cegah siswa membolos

Pemerintah Wilayah Northern Territory Australia (NT) mengerahkan tenaga kepolisian buat mencegah siswa membolos. Bahkan upaya tersebut disertai dengan kebijakan pemberian hukuman khusus.

Seperti dikutip dari ABC Indonesia, Jumat (12/10), pemerintah NT akan menempatkan polisi untuk bertugas di sejumlah sekolah.

Program ini akan memperkenalkan sejumlah aparat kepolisian untuk bertugas di 10 sekolah mulai Senin 15 Oktober 2018, saat musim sekolah dimulai kembali dengan tujuan untuk menyasar anak-anak yang berisiko membolos dari sistem pendidikan.

Model pengerahan aparat polisi ke sekolah-sekolah ini awalnya diperkenalkan pada 1980-an, tetapi diubah oleh pemerintahan Partai Liberal di NT sebelumnya, yang mengurangi kehadiran fisik petugas di sekolah-sekolah.

“Kami akan bekerja keras menindak ketidakhadiran, meminimalkan tingkat skorsing, tetapi yang paling penting adalah tercapainya tujuan jangka menengah dan panjang, yakni meningkatnya hubungan antara pelajar dengan petugas polisi kami,” kata Wakil Komisaris Polisi NT, Michael Murphy.

“Kami panutan, kami bisa membimbing siswa.”

Namun, program tersebut telah memicu kekhawatiran di mana kehadiran polisi dapat “mengkriminalisasi” siswa.

“Ini benar-benar mendorong rasa takut di hati saya,” kata Shahleena Musk, seorang pengacara senior di Pusat Hukum Hak Asasi Manusia, setelah mengetahui bahwa program itu akan diperkenalkan.

Shahleena Musk menunjuk sebuah laporan baru-baru ini oleh Dignity in Schools – sebuah koalisi nasional dari 98 organisasi dari 24 negara di seluruh AS – yang menemukan peningkatan kehadiran petugas polisi di sekolah-sekolah telah dikaitkan dengan peningkatan penangkapan berbasis sekolah atas perilaku tidak senonoh dan dampak negatif pada iklim sekolah “.

“Pekerjaan saya sebelumnya adalah manajer dan pengacara pemuda senior di NAAJA, dinas hukum Aborigin di sana, dan saya memiliki sejumlah anak yang ditangkap di dalam ruang kelas mereka, diborgol oleh polisi dan digiring keluar dari sekolah,” kata shahleena Musk.

“Jadi anak-anak ini, mereka tiga orang memilih tidak kembali ke sekolah setelah insiden itu, karena hal yang tidak ada kaitannya dengan mereka.”