Tangis Misterius Saat Pembongkaran Makam Pria Dibakar Hidup-Hidup

053369900_1502265890-IMG_20170809_120107137

Proses pembongkaran makam korban pembakaran hidup-hidup, M Alzahra atau Joya, menyita perhatian warga. Ratusan warga berbondong-bondong mendatangi TPU Kedondong, BTN Buni Asih, Kampung Kongsi, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.

Saking banyaknya warga yang datang, 20 anggota Polsek Cikarang Utara dan 10 anggota Sabhara Polres Metro Bekasi diterjunkan untuk menjaga proses pembongkaran makam Joya.

Suasana riuh mewarnai proses pembongkaran makam korban penganiayaan dan pembakaran hidup-hidup ini. Namun, di tengah suasana tersebut terdengar suara teriakan histeris dari dalam mobil Toyota Agya bernomor polisi B 1720 FOF.

Bocah berusia sekitar lima tahun itu berdiri di dalam mobil sambil menangis dan memukul-mukul kaca mobil.

“Itu kenapa, itu kenapa bocah,” celetuk warga.

Seorang perempuan kemudian bergegas menghampiri minibus tersebut. Ia membuka pintu dan langsung menggendongnya.

“Mama, mama…,” teriak anak itu.

“Mamanya siapa namanya?” tanya perempuan itu pada sang bocah.

“Mama Lia, Mama Lia,” jawab sang anak sambil menangis.

Kegaduhan pun terjadi mewarnai pembongkaran makam Joya. Warga berteriak memanggil “Mama Lia”.

Bahkan, Kapolsek Cikarang Utara Kompol Puji Hardi yang kebetulan tak jauh di lokasi, juga ikut berteriak mencari orangtua anak tersebut.

“Hayu cari, panggil nama mamahnya,” ujar Puji sembari mengerahkan sejumlah anggotanya.

Tak berselang lama, tampak perempuan muda berlari ke arah kendaraannya sambil menenteng handphone.

“Anak saya, anak saya itu,” ucap perempuan yang mengenakan pakaian ketat bermotif belang-belang hitam putih itu.

Rupanya, bocah tersebut ditinggal ibunya menyaksikan pembongkaran makam Joya. Saat ditinggal, sang anak sedang tertidur dalam mobil.

Polisi dan warga tampak heran bercampur kesal melihat kejadian itu. Sebab, sang ibu tega meninggalkan anaknya sendirian di dalam mobil dengan kondisi mesin mati.

Apalagi, jarak antara mobil yang ditinggalkan dengan makam Joya mencapai sekitar 500 meter.

“Duh ibu, untung enggak hilang nih anak,” ujar Kapolsek.

“Iya maaf Pak, tadi sebentar mau foto doang sih,” ungkap ibu muda itu.

Mendengar ucapan ibu muda itu, warga pun heran. “Waduh bu, ada-ada aja, dah. Pakai segala moto-moto,” celetuk warga.

Joya meninggal tragis akibat dianiaya dan dibakar massa, setelah dituduh mencuri amplifier Musala Al-Hidayah Kampung Cabang Empat, Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Senin 1 Agustus lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *