Travis Kalanick dan Uber: Berawal di Paris, Berakhir Tragis

UANGKIUKIU.COM Ini bukan kisah dongeng, karena kalian tahu seperti apa akhirnya. Di suatu malam di tahun 2008, kota Paris yang romantis sedang diselimuti oleh salju. Dua orang teman bernama Travis Kalanick dan Garrett Camp menghabiskan malam itu untuk menunggu taksi yang tak kunjung datang. Tentu saja mereka mengeluh. Kenapa susah sekali mendapatkan taksi? Begitu pikir mereka berdua.

Frustrasi yang dirasakan saat itu ternyata memberikan ide baru di benak mereka. Ide revolusioner yang mengubah moda transportasi sekarang ini. Ide yang memberikan solusi, sekaligus menjadi ‘nemesis’ bagi moda transportasi konvensional dan juga regulator di berbagai daerah.

Ide tersebut melahirkan perusahaan transportasi online terbesar di dunia saat ini: Uber. Pemikiran sederhana melandasi gagasan yang kemudian membawa perubahan besar ke berbagai penjuru dunia. Kalanick dan Camp hanya ingin menghadirkan sebuah aplikasi bagaimana kita hanya cukup ‘menekan tombol’ dan mendapatkan kendaraan.

Momen ini sangat tepat. Saat itu Kalanick dan Camp sedang bergelimang harta setelah menjual perusahaan rintisan masing-masing. Kalanick menjual startup kedua miliknya, Red Swoosh, sebuah perusahaan konten, dengan nilai 20 juta dolar AS ke Akamai Technologies. Sementara Camp baru menjual perusahaan StumbleUpon, dengan mahar 75 juta dolar AS ke eBay.

Yuk Gabung ke LobbyQQ Agen Poker Online Terpercaya Di Indonesia. Rasakan Kartu Cantik Nya Dan Nikmati Layanan Customer Service Kami 24 Jam Nonstop Untuk Info Lebih Lanjut Silahkan Hubungi CS Kami Melalui Live Chat Link Kami
Link : promosiweb.net | hokiceme.com

Kedatangannya di Paris pun sebagai bentuk pemburuan mereka untuk ide bisnis terbaru. Mereka sengaja menghadiri konferensi teknologi tahunan di Eropa, LeWeb, yang diadakan di Paris untuk mencari ‘wahyu’.

 

Saat di Paris, Kalanick dan Camp pun menyewa apartemen yang sama, dan dalam suatu waktu, keduanya berbicara dengan entrepreneur lain tentang ide-ide perusahaan startup, di mana salah satu skemanya bertuju pada aplikasi taksi panggilan. Rasa frustrasi saat menunggu taksi di bawah derasnya salju menjadi perhatian utama dalam perbincangan kala itu.

Kembalinya ke San Francisco, Kalanick malah tidak menyeriusi ide tersebut. Tapi Camp tidak demikian, obsesinya mengenai konsep layanan mobil mulai direalisasikan saat ia membeli domain situs UberCab.com.

Camp melihat ide itu sebagai ide emas dan menolak untuk mengabaikannya begitu saja. Ia pun ingin bermitra dengan Kalanick.

Saat di Paris, keduanya naik ke Menara Eiffel yang ikonik. Kalanick, disebut Camp sebagai sosok yang berkualitas dan berani mengambil resiko. Camp mengingat momen saat di puncak Eiffel, Kalanick berani melompati sebuah penghalang untuk mendapatkan pemandangan yang lebih bagus.

“Saya tahu ide besar membutuhkan keberanian besar pula, dan ia membuat saya kagum karena ia memilikinya,” ujar Camp.

Sebelum Uber mendunia, Kalanick mengaku pernah merasa sangat takut mengalami kegagalan. Ia sempat depresi setelah startup pertamanya gagal total, lalu startup kedua berjalan tak sesuai keinginan.

Camp dan Kalanick pun bersama-sama meluncurkan UberCab di San Francisco untuk pertama kali pada 2010, dengan jumlah mobil yang sedikit, pegawai pun sama, dan modal tak seberapa. Tapi kita lihat hasilnya kemudian, bisnis ini menjadi tren teknologi teranyar yang sangat penting, terutama dalam dunia transportasi.

 

Penumpang bisa dijemput oleh mobil UberCab hanya dengan ‘menekan tombol’. Lokasinya dilacak oleh GPS dan biaya perjalanan secara otomatis diambil dari akun kartu kredit si penumpang. Tidak perlu antre. Tidak perlu pindah ke lokasi tertentu. Dan yang terpenting, biaya rendah.

Camp sering menyebut layanannya ini sebagai, “Semua orang bisa naik mobil bagaikan miliuner.”

 

UberCab jadi Uber

Tapi, perjalanan Uber tidaklah mulus. Pada Oktober 2010, UberCab mendapatkan masalah setelah badan transportasi San Francisco dan komisi utilitas publik California meminta layanan tersebut untuk berhenti. Hal ini dikarenakan ada nama ‘Cab’ yang disebut menyalahi aturan karena UberCab beroperasi tanpa lisensi taksi.

 

Dari sinilah jiwa Kalanick yang bergejolak menunjukkan aksinya. Ia melawan dengan tegas permintaan untuk mematikan UberCab.

“Kami benar-benar legal dan pemerintah meminta kami berhenti. Anda punya pilihan untuk melakukan apa yang mereka katakan atau bisa memperjuangkan yang Anda yakini,” kata Kalanick.

Lahirlah nama Uber setelah itu, yang merupakan akal-akalan dari Kalanick untuk menghindari masalah dengan pemerintah. Tak ada lagi nama Cab dalam Uber. Kalanick dan Camp membeli domain situs Uber.com untuk mengoperasikan layanannya.

Setelahnya, kita bisa lihat bagaimana Uber menjelma menjadi transportasi online terbesar di dunia saat ini, yang tak bisa dilepaskan dari insting bertarung milik Kalanick. Ia pernah menyatakan ambisinya yang tidak akan berhenti sebelum memenangkan setiap kota di dunia.

Hal itu bisa dilihat dari semua batasan yang ia tabrak begitu saja, mulai dari regulasi, pertentangan taksi konvensional, hingga budaya kerja yang tidak sehat dalam perusahaan. Laporan pelecehan seksual di dalam Uber membuat perusahaan melakukan investigasi yang menghasilkan dipecatnya 20 pegawai.

Masalah datang bertubi-tubi menimpa Uber. Kalanick dianggap tidak memiliki kepemimpinan yang baik dan dikritik oleh dewan direksi perusahaan. Tapi, ia tidak berubah, masalah pun masih terus berdatangan dan membuat banyak petinggi Uber yang ‘minggat’ dari perusahaan.

Kalanick semakin tertekan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengambil cuti panjang dari perusahaan pada pertengahan Juni 2017, apalagi setelah terjadinya tragedi kecelakaan perahu yang menewaskan ibunya serta membuat ayahnya luka parah pada Mei lalu.

 

Berakhir Tragis

 

Tapi keputusan Kalanick itu dianggap belum cukup oleh jajaran pemegang saham, yang ternyata meminta sang CEO untuk mundur dari posisinya. Mereka ingin Kalanick tidak lagi membuat keputusan. Surat berjudul “Moving Uber Forward” dikirim ke Kalanick terkait permintaan tersebut.

Setelah diskusi selama beberapa jam, akhirnya Kalanick setuju untuk mundur dari posisi CEO. Itu terjadi pada Rabu, 21 Juni 2017. Tindakan ini disebut sebagai wujud cintanya terhadap Uber agar perusahaan bisa lebih maju lagi ke depannya.

“Saya mencintai Uber lebih dari apapun di dunia ini dan dalam masa yang sulit ini, saya telah menerima permintaan para investor agar saya mundur sehingga Uber bisa kembali membangun perusahaan ketimbang teralihkan oleh perseteruan lain,” kata Kalanick, dalam pernyataan resmi.

Meski begitu, Kalanick masih akan tetap berada di Uber. Ia bakal menempati posisi di jajaran direksi perusahaan. Sementara Garrett Camp sendiri diketahui sudah lama tidak terlibat dalam operasional harian dari Uber.

Memang menjadi akhir yang sangat tidak menyenangkan bagi Kalanick, tapi mungkin saja ini bukan akhir. Kalanick pernah berjanji untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik dengan sebutan ‘Travis Kalanick 2.0’ saat mengumumkan cuti beberapa waktu lalu. Tampaknya versi baru dari gaya kepemimpinan yang ia janjikan itu sudah terlambat. Kalanick harus menerima kenyataan, ia tak lagi menakhodai perusahaan yang ia bangun dan cintai.

Kini Uber siap mengarungi perjalanan baru tanpa sang CEO yang kontroversial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *