‘Setelah ada yang tewas, kami tidak bisa lagi mendiamkan ketidakadilan ini’

KARTU66 – Muhammad seharusnya mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk universitas. Tapi remaja 17 tahun itu malah sibuk mendokumentasikan unjuk rasa besar-besaran di Ibu Kota Dhaka yang sudah berlangsung selama dua pekan.

Dilansir dari laman TIME, Jumat (10/8), dengan tas ranselnya Muhammad mengarungi jalanan utama kota berpenduduk 18 juta jiwa itu. Dia bersama ribuan remaja seumurannya atau bahkan lebih muda dari dia menuntut sesuatu yang sederhana: hidup mereka tidak tamat sia-sia hanya karena sopir bus ugal-ugalan.

“Ketika angkatan junior saya berdemo di jalanan, saya tidak bisa cuma duduk di rumah saja membaca kabar dari media sosial tentang apa yang mereka lakukan,” kata Muhammad kepada TIME.

Kerusuhan di Dhaka dimulai pada 29 Juli ketika sebuah bus yang melaju kencang menabrak dua remaja hingga tewas dan melukai 13 lainnya. Selama sembilan hari kemudian, para pelajar itu turun ke jalan menuntut keadilan. Gelombang demonstrasi membesar, diikuti mulai dari siswa kelas menengah hingga universitas.

Unjuk rasa itu akhirnya berkembang menjadi gerakan yang lebih luas memprotes pemerintahan yang buruk dan korup. Bagi sebagian kalangan, demo itu mewakili generasi muda yang sudah muak dengan kondisi negara yang kian korup di tengah perjuangan mereka sehari-sehari tinggal di kota paling padat di muka bumi.

Yuk Gabung ke Kartu66 Agen Poker Online Terpercaya Di Indonesia. Rasakan Kartu Cantik Nya Dan Nikmati Layanan Customer Service Kami 24 Jam Nonstop Untuk Info Lebih Lanjut Silahkan Hubungi CS Kami Melalui Live Chat Link Kami
Link : promosiweb.net | hokiceme.com

“Keresahan ini sudah berlangsung sejak lama,” kata Liton Nandi, sekretaris jenderal Serikat Mahasiswa Bangladesh (BSU).

“Setelah ada yang tewas, kami tidak bisa lagi mendiamkan ketidakadilan ini.”

Perdana Menteri Sheikh Hasina yang akan menghadapi pemilu tahun ini tampaknya sudah tidak nyaman lagi dengan gelombang unjuk rasa pelajar dan mahasiswa ini. Selama sepekan terakhir 200 orang luka ketika aparat keamanan membubarkan massa dengan gas air mata dan peluru karet. Sebanyak hampir 24 jurnalis juga diserang dan menurut media lokal, sebagian dari mereka harus dilarikan ke rumah sakit.

Senin lalu kekerasan kian memuncak. Saksi mengatakan polisi antihuru-hara bersama Liga Chhatra Bangladesh, sayap organisasi partai berkuasa, menyerbu dua kampus swasta.

Seorang mahasiswa demonstran rasa menggambarkan peristiwa di Universitas East West ketika dia bersama tiga temannya harus pontang-panting menyelamatkan diri dari serbuan aparat bersenjata tongkat dan pemukul besi ketika menggelar unjuk rasa damai.

“Polisi dan liga mahasiswa tiba-tiba menyerang kami,” kata mereka yang tidak ingin diketahui identitasnya karena takut ditangkap.

“Saya dan teman sangat ketakutan. Kami berlindung di sebuah rumah dekat kampus.”

Aparat menyangkal pasukan keamanan atau kelompok pendukung pemerintah melakukan kekerasan terhadap pelajar dan mahasiswa. Namun sejumlah foto remaja yang berdarah-darah menyatakan sebaliknya.

“Kami hanya mahasiswa Bangladesh yang memimpikan keadilan,” kata Liton. “Pemerintah ingin menghancurkan gerakan kami dengan kekerasan.”

Sebagai response terhadap gelombang unjuk rasa, pemerintah berjanji akan menerapkan aturan lebih ketat dan hukuman lebih keras bagi pelanggar lalu lintas. Namun sejumlah kalangan meragukan komitmen pemerintah itu.

“Faktanya adalah rakyat Bangladesh sudah tidak percaya lagi dengan pemerintah,” kata Muhammad.

 

KARTU66
LINK :
dapurqq.com
bossdollar.com
pahalaqq.com
gadisliar.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *